Kamis, 26 September 2013
Pulau Terapung di Danau Titicaca
Coba bayangkan kalau kita tinggal di sebuah pulau yang terapung di
danau. Bisa-bisa pulau tersebut bergerak mengikuti arus air. Jadi setiap
bangun pagi, kita berada di daerah yang berbeda. Mungkin hal-hal
tersebut yang dirasakan penduduk pulau-pulau terapung di Danau Titicaca,
Peru.
Kalau kita jalan-jalan ke Peru, jangan lupa mengunjungi danau terbesar di Amerika Selatan. Yup, Danau Titicaca yang memiliki luas 8300 kilometer persegi. Nggak cuma ukurannya yang membuat danau yang terletak di Pegunungan Andes ini spesial. Namun, Suku Uros (penduduk danau itu) punya cara yang unik untuk hidup. Mereka membuat tempat tinggal di atas air danau tersebut sehingga tampak seperti pulau mengapung.
Pulau-pulau terapung ini dibuat dari alang-alang yang tumbuh subur di sekitar Titicaca. Begitu pula bangunan yang berdiri di atasnya. Alang-alang tersebut diikatkan ke sebuah pondasi terapung. Hasilnya, seperti sebuah rakit raksasa. Setiap enam bulan sekali, Suku Uros harus membongkar pulau terapung tersebut untuk menggantinya dengan alang-alang baru. Pergantian ini harus dilakukan karena pulau-pulau ini bisa tenggelam secara perlahan. Kalau kita berjalan di salah satu pulau tersebut, akan merasa tidak menginjak tanah yang solid. Sedikit bergoyang dan tidak keras.
Kabarnya, Suku Uros telah hidup terapung selama berabad-abad. Mereka menganggap dirinya sebagai pelindung Danau Titicaca. Menurut legenda setempat, suku ini lebih tua dibanding peradaban Suku Inca. Bahkan, sebelum adanya matahari, bulan dan bintang.
Sayangnya, nggak semua pulau terapung di Danau Titicaca mau menerima pengunjung. Mereka cukup membatasi diri dengan dunia luar. Katanya sih, supaya budaya dan tradisinya tidak tercemar dan bisa dilestarikan. Ayu – Foto: Michele Falzone/JAI/Corbis/ClickPhotos
Kalau kita jalan-jalan ke Peru, jangan lupa mengunjungi danau terbesar di Amerika Selatan. Yup, Danau Titicaca yang memiliki luas 8300 kilometer persegi. Nggak cuma ukurannya yang membuat danau yang terletak di Pegunungan Andes ini spesial. Namun, Suku Uros (penduduk danau itu) punya cara yang unik untuk hidup. Mereka membuat tempat tinggal di atas air danau tersebut sehingga tampak seperti pulau mengapung.
Pulau-pulau terapung ini dibuat dari alang-alang yang tumbuh subur di sekitar Titicaca. Begitu pula bangunan yang berdiri di atasnya. Alang-alang tersebut diikatkan ke sebuah pondasi terapung. Hasilnya, seperti sebuah rakit raksasa. Setiap enam bulan sekali, Suku Uros harus membongkar pulau terapung tersebut untuk menggantinya dengan alang-alang baru. Pergantian ini harus dilakukan karena pulau-pulau ini bisa tenggelam secara perlahan. Kalau kita berjalan di salah satu pulau tersebut, akan merasa tidak menginjak tanah yang solid. Sedikit bergoyang dan tidak keras.
Kabarnya, Suku Uros telah hidup terapung selama berabad-abad. Mereka menganggap dirinya sebagai pelindung Danau Titicaca. Menurut legenda setempat, suku ini lebih tua dibanding peradaban Suku Inca. Bahkan, sebelum adanya matahari, bulan dan bintang.
Sayangnya, nggak semua pulau terapung di Danau Titicaca mau menerima pengunjung. Mereka cukup membatasi diri dengan dunia luar. Katanya sih, supaya budaya dan tradisinya tidak tercemar dan bisa dilestarikan. Ayu – Foto: Michele Falzone/JAI/Corbis/ClickPhotos
International Spy Museum
Melihat aktivitas dan peralatan mata-mata di film saja sudah keren
banget. Apalagi kalau bisa melihatnya secara langsung. Eits, ini nggak
sekadar angan-angan saja lho. Impian kita melihat peralatan agen rahasia
bisa didapatkan dengan mengunjungi International Spy Museum di
Washington, Amerika Serikat.
International Spy Museum adalah museum yang menyimpan berbagai koleksi peralatan spionase (mata-mata) yang pernah digunakan. Sebanyak 750 koleksi dipamerkan oleh museum yang dibuka sejak 19 Juli 2002 ini.
Museum ini termasuk museum yang memiliki koleksi mata-mata terbanyak yang pernah dipamerkan untuk umum. Koleksinya terdiri dari benda-benda yang diciptakan untuk mata-mata dan intel rahasia, foto dokumentasi agen, arsip tertulis dan lainnya. Bahkan ada banyak peralatan yang baru pertama kali diperlihatkan kepada umum karena alat tersebut memang digunakan secara sembunyi-sembunyi.
Museum yang menghabiskan sekitar US$ 40 juta atau sekitar Rp400 miliar untuk pembangunannya ini dibuka untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai kegiatan spionase dan efeknya terhadap sejarah manusia. Selain melihat koleksi yang ada, museum satu ini juga menyelenggarakan Exhibition & Experiences yang supaya pengunjung bisa mengetahui misi si mata-mata dan apa peralatan serta teknik yang digunakan untuk menjalankan misi tersebut.
International Spy Museum dibuka setiap hari pada pukul 10.00 – 18.00 waktu setempat dengan harga tiket US$ 14,95 – US$ 20,95 (sekitar Rp. 170 ribu – Rp. 240 ribu) sesuai dengan kategori usia yang ditentukan. Lizta – Foto: www.spymuseum.org, www.fanpop.com
International Spy Museum adalah museum yang menyimpan berbagai koleksi peralatan spionase (mata-mata) yang pernah digunakan. Sebanyak 750 koleksi dipamerkan oleh museum yang dibuka sejak 19 Juli 2002 ini.
Museum ini termasuk museum yang memiliki koleksi mata-mata terbanyak yang pernah dipamerkan untuk umum. Koleksinya terdiri dari benda-benda yang diciptakan untuk mata-mata dan intel rahasia, foto dokumentasi agen, arsip tertulis dan lainnya. Bahkan ada banyak peralatan yang baru pertama kali diperlihatkan kepada umum karena alat tersebut memang digunakan secara sembunyi-sembunyi.
Museum yang menghabiskan sekitar US$ 40 juta atau sekitar Rp400 miliar untuk pembangunannya ini dibuka untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai kegiatan spionase dan efeknya terhadap sejarah manusia. Selain melihat koleksi yang ada, museum satu ini juga menyelenggarakan Exhibition & Experiences yang supaya pengunjung bisa mengetahui misi si mata-mata dan apa peralatan serta teknik yang digunakan untuk menjalankan misi tersebut.
International Spy Museum dibuka setiap hari pada pukul 10.00 – 18.00 waktu setempat dengan harga tiket US$ 14,95 – US$ 20,95 (sekitar Rp. 170 ribu – Rp. 240 ribu) sesuai dengan kategori usia yang ditentukan. Lizta – Foto: www.spymuseum.org, www.fanpop.com
Jack Dorsey Si Penemu Twitter
Punya hobi ngetweet semua yang dirasakan? Dari saat galau sampai
senang. Pokoknya, tiada hari tanpa posting sesuatu di Twitter. Pengin
berterimakasih nih, sama pembuatnya karena kita jadi bebas berekspresi.
Siapa sih, yang membuat jejaring sosial ini?
Mau kenalan? Namanya Jack Dorsey. Kelahiran St. Louis, Amerika Serikat ini sudah menunjukkan ketertarikan terhadap komputer dan teknologi sejak kecil. Sebelum masuk SMA, ia sudah mempelajari bahasa pemograman dan logika dasar. Hebatnya, ia bisa menguasainya dalam sekejap. Pada usia 15 tahun, ia membuat software untuk mengontrol sistem antrian para sopir taksi.
Semasa kuliah, Jack mendirikan perusahaan perangkat lunak. Karena ingin berkonsentrasi dengan pekerjaannya, ia pun keluar dari Missouri University of Science and Technology. Pada masa-masa itu, ia mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang bisa sharing status pribadi ke orang lain dengan mudah. Ide ini didapatkan dari sistem SMS ketika itu. Kemudian ia pun menyampaikannya ke perushaan bernama Odeo. Di sinilah, Jack bertemu dengan Biz Stone dan Evan Williams (tokoh pendiri Twitter yang lain). Ketiganya membuat perusahaan software bernama Obviois.
Awalnya, Twitter nggak berjalan mulus. Banyak gangguan koneksi dan perangkat lunak. Bahkan, banyak orang yang berbagi status aneh dan tidak pantas untuk dipublikasikan. Twitter baru siap digunakan pada tahun 2006. Jejaring sosial ini kemudian terus dikembangkan hingga saat ini. Ayu – Foto: Sipa Press
Mau kenalan? Namanya Jack Dorsey. Kelahiran St. Louis, Amerika Serikat ini sudah menunjukkan ketertarikan terhadap komputer dan teknologi sejak kecil. Sebelum masuk SMA, ia sudah mempelajari bahasa pemograman dan logika dasar. Hebatnya, ia bisa menguasainya dalam sekejap. Pada usia 15 tahun, ia membuat software untuk mengontrol sistem antrian para sopir taksi.
Semasa kuliah, Jack mendirikan perusahaan perangkat lunak. Karena ingin berkonsentrasi dengan pekerjaannya, ia pun keluar dari Missouri University of Science and Technology. Pada masa-masa itu, ia mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang bisa sharing status pribadi ke orang lain dengan mudah. Ide ini didapatkan dari sistem SMS ketika itu. Kemudian ia pun menyampaikannya ke perushaan bernama Odeo. Di sinilah, Jack bertemu dengan Biz Stone dan Evan Williams (tokoh pendiri Twitter yang lain). Ketiganya membuat perusahaan software bernama Obviois.
Awalnya, Twitter nggak berjalan mulus. Banyak gangguan koneksi dan perangkat lunak. Bahkan, banyak orang yang berbagi status aneh dan tidak pantas untuk dipublikasikan. Twitter baru siap digunakan pada tahun 2006. Jejaring sosial ini kemudian terus dikembangkan hingga saat ini. Ayu – Foto: Sipa Press
No comments:
Post a Comment